Nilai-Nilai Budaya Sasak Kemidi Rudat Lombok dalam Perspektif Hermeneutika
Setiap
daerah mempunyai kesenian tersendiri yang menjadi identitas suatu daerah. Dari masing-masing bentuk
kesenian daerah merupakan ciri khas dan menjadi corak budaya daerah asal
kesenian itu. Oleh karena itu, kesenian daerah merupakan puncak-puncak budaya
yang terdapat di daerah dan menjadi simbol masyarakat pemiliknya. Terciptanya
suatu kesenian (pertunjukan) secara konseptual akan berpedoman pada sistem
nilai budaya yang mengelilinginya dan khas sesuai dengan budaya daerah tersebut.
Kemidi
Rudat merupakan salah satu jenis teater tradisional yang menjadi milik
masyarakat Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kemidi Rudat adalah seni
tradisional Islam yang diserap dari kebudayaan Arab (Turki). Jika kita lihat
dari latar belakang sejarahnya, Kemidi Rudat dicetuskan oleh seorang haji yang
baru pulang dari Mekkah. Secara fisik, jenis kesenian ini melukiskan kegagahan
prajurit Turki (Islam) yang lengkap dengan seragam tentara. Nuansa Timur Tengah
dalam kesenian rudat ini menjadi karakter dan ciri yang menonjol. Hal ini terlihat
dari pakaian khas para pemain dan lagu-lagu pengiring yang digunakan dalam
pertunjukan teater ini. Pakaian pemain mirip dengan seragam serdadu kerajaan
Turki tempo dulu dan menggunakan topi Tarbus, yang merupakan topi khas Turki
yang dapat dilihat pada tokoh Aladin atau saudagar-saudagar Arab dalam pertunjukan
atau film-film dengan tema dunia padang pasir.
Lagu-lagu
yang mengiringi jalannya pertunjukan Kemidi Rudat berirama padang pasir dan sebagian
besar menggunakan syair dalam bahasa Arab yang lafalnya terkadang tidak jelas
lagi karena terpengaruh dengan felafalan bahasa ucapan orang Sasak. Sebagian
lagi ada yang menggunakan bahasa Indonesia (melayu), tetapi tetap dengan irama
padang pasir. Dengan demikian, tidaklah salah apabila seni teater
Kemidi Rudat dikategorikan sebagai salah satu jenis kesenian yang bersumber
kepada kebudayaan Melayu-Islam.
Teater
tradisional merupakan bagian dari identitas masyarakat pendukungnya. Untuk mengenal
karakter suatu masyarakat bisa dengan mengenal dan mengetahui kesenian yang
berkembang dalam masyarakat tersebut. Mengenal komunitas suku Sasak bisa
dilakukan dengan mengenal dan mengetahui bahwa Kemidi Rudat adalah kesenian
khas suku Sasak yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat
Sasak. Jika
bagian identitas ini hilang, maka secara perlahan-lahan kita juga tidak bisa mengenal budaya dan
kearifan lokal yang ada dalam masyarakat suku Sasak. Sebagaimana orang Sasak ”mengatakan
maraq manuk bekesena” (seperti ayam di depan cermin), hanya mematuk-matuk
bayangan yang ada di cermin (disangka musuh) karena tidak lagi mengenal bahwa
bayangan tersebut adalah bayangannya sendiri.
Nilai-nilai
dalam Kemidi Rudat ada hubungannya dengan substansi nilai filosfis. Nilai-nilai
filosofis yang dimaksud adalah suatu keyakinan mengenai cara bagaimana bertingkah laku dan bagaiamana tujuan akhir
yang diinginkan individu. Nilai tersebut digunakan sebagai salah satu prinsip atau standar dalam hidup yang terdapat
dalam pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep
dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filosofi hidup orang Sasak tidak
bisa dilepaskan dari nama Sasak sendiri. Sasak Lombok mempunyai kaitan yang
erat sehingga Sehingga tidak dapat di pisahkan. Ia tergabung menjadi satu, yang
dimana asala mula katanya adalah "Sa'sa' Lombok" yang berasal dari
sa' = satu dan lomboq' = lurus. Oleh karena itu sasak Lombok berarti
satu-satunya kelurusan. Jadi artinya, orang-orang Lombok ialah orang yang
menjunjung tinggi kelurusan atau kejujuran.
Rudat
ialah tarian dengan gerakan pencak silat dan ketangkasan yang dibarengi dengan lagu.
Setiap lagu mempunyai fungsi masing-masing bagi pemain/penari rudat maupun bagi
penonton. Bagian pertama ini adalah bagian pembuka rangkaian pementasan. Sekitar
sepuluh lagu dan gerak ditampilkan pada bagian ini. Kemidi adalah bagian inti
dari Kemidi Rudat yang menyajikan cerita/drama Kemidi Rudat. Cerita yang
disajikan adalah cerita tentang peperangan Raja Indra Bumaya dari negeri Ginter
Baya melawan Sultan Ahmad Mansyur dari negeri Puspasari.
Bagian pertama, tarian Rudat, diawali dengan gerakan-gerakan tari yang terdiri dari beberapa bagian. (1) Lagu dan gerak selamat datang yang merupakan lagu pembuka yang dinyanyikan pada saat layar dibuka untuk mengiringi masuknya pemain/penari rudat. Lagu pembuka ini adalah lagu ucapan selamat datang dan penghormatan serta penghargaan kepada penonton yang berkenan menyaksikan pementasan Kemidi Rudat ini. (2) Tarian pembuka, yaitu tarian yang dilakukan oleh Komandan Rudat di tengah-tengah pentas yang dikelilingi oleh penari Rudat lainnya. (3) Baris-berbaris, Komandan Rudat kembali ke depan untuk mengatur barisan anak rudat dan memberi aba-aba untuk kembali membentuk barisan rudat seperti pada awal masuk. Komandan rudat memberi aba-aba baris berbaris dengan menggunakan bahasa Arab dan Belanda. Bahasa yang digunakan dalam baris berbaris ini merupakan bahasa turun temurun dalam pementasan Kemidi Rudat Kampung Terengan. Bahasa Belanda yang digunakan baik dari kata-kata dan maknanya tidak seorang pemain rudat pun yang mengetahuinya. Pemain lama yang sudah sepuh pun tidak memahaminya. (4) Lagu dan gerak penghormatan, penari rudat memperagakan keterampilan menari sambil melakukan gerakan penghormatan dan pernyataan permisi kepada penonton. (5) Salam penutup, Komandan Rudat kembali mengatur barisan pemain rudat. Setelah rapi, Komandan Rudat dan wakilnya kembali ke dalam barisan, bergabung dengan pemain rudat yang lain. Setelah berbaris rapi, lagu salam penutup mulai mengalun dan langsung disambut dengan tarian oleh seluruh pemain rudat. (6) Gerak inti, pada lagu dan langkah rudat selanjutnya adalah mulainya permainan inti tarian rudat. dilaksanakan setelah beristirahat sekitar 15 menit. Anak rudat berbaris dua mengiringi kedua komandan rudat beraksi menari di tengah, keduanya menari menggunakan atau sambil memainkan pedang. Di akhir tarian, komandan rudat kembali melepas pedang dan memimpin kembali anak rudat menari bersama. Lagu-lagu yang dinyanyikan dan tarian pada bagian inti pembuka pementasan Kemidi Rudat ini adalah lagu-lagu berbahasa Arab yang diambil dari kitab Barzanzi. (7) Gerak penutup, pada bagian akhir tarian, sebagian pemain membuka topi tarbus pemain lain dan menari, sementara pemain yang tidak bertopi lagi hanya menari duduk sambil memainkan tangan. Setelah tarian selesai, sebagian pemain (yang tidak bertopi) berdiri dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pemain sebelumnya. Dibukanya topi tarbus adalah tanda berakhirnya persembahan rudat dan persiapan untuk pementasan Kemidi Rudat.
Dalam
nilai filosofis, ungkapan epe-aik bermakna yang maha kuasaatas segala asal
kejadian alam dan manusia. Allah Swt. adalah zat utama sebagai awal kejadian
alam semesta beserta isinya dan penentu kehidupan dan kematian. Filosofi
epe-aik ini bermakna kepatuhan dan ketakwaan kepada kekuasaan pemilik alam
semesta, Allah Tuhan Yang Maha Esa, menegakkan ajaran agama, dan persamaan hak
sebagai manusia di hadapan Allah. Kemidi Rudat menyajikan nilai ini melalui
lagu dan dialog-dialog yang mereka ucapkan dalam pementasan.
Gumi
paer yang secara umum disebut paer adalah rumusan simbolik pemahaman masyarakat
Sasak tentang ruang dalam perspektif budaya. Dalam konsep gumi paer
terakomodasi seluruh konsep yang berkaitan dengan permukaan bumi dengan segala
yang ada di atasnya, segala isi bumi dan langit yang menaunginya. Konsep paer
mencakup aspek-aspek kosmologis, konsep
antropologis dan
konsep sosiologis yang dipandang sebagai suatu kesatuan dalam budaya Sasak.
Pementasan Kemidi Rudat yang dilaksanakan dalam rangka berhasilnya panen adalah
ungkapan rasa syukur karena alam telah memberikan yang berharga bagi manusia
yang memanfaatkannya.
Budi
kaye merupakan frase bahasa Sasak yang menyiratkan symbol kekayaan diri pribadi
manusia Sasak yang muncul dari kesadaran akan budi daya atau kekuasaan Illahi
yang menurunkan akal budi. Potensi atau kekayaan akal budi inilah yang harus
dimanfaakan dalam interaksi antarsesama manusia hingga tercipta kehidupan yang
damai yang terakumulasi dalam nilai-nilai kearifan lokal masyaraka Sasak dalam
bentuk Solah Soleh Soloh Repah Reme. Hidup yang dinaungi kebaikan, kesalehan,
kedamaian dalam kebersamaan dan saling pengertian yang mendalam. Budi pekerti
dan sikap yang baik yang ditunjukkan dalam Kemidi Rudat menjadi cermin pekerti
agar kehidupan dapat berjalan dengan penuh kedamaian. Perilaku Putra Ibrahim
Basari adalah contoh yang baik dan dapat menjadi cermin kehidupan yang baik dan
beradab.
Oleh: M.A. Irfani

Comments
Post a Comment