FENOMENA HOAX DI MEDIA SOSIAL DALAM PANDANGAN HERMENEUTIKA


Di era yang modernis ini banyak kalangan masyarakat yang tak mau kalah dalam bermain gadget dan aplikasi-apikasi didalamnya. Seiring berkembangnya zaman, banyak juga bermunculan aplikasi obrolan dan bacaan yang berlomba-lomba menampilkan berita dan kisah-kisah di sisi lain belahan dunia. Hingga kini media-media digital atau yang sering disebut dengan media sosial banyak bermunculan dari masa ke masa. Era kemajuan dari media sosial dapat dikatakan dimulai pada tahun 2001 dan berlangsung hingga sekarang. Semakin majunya dunia digital memunculkan banyaknya media sosial yang menarik perhatian masyarakat umum dari kalangan atas hingga menengah kebawah. Media-media sosial tersebut diantaranya adalah Wikipedia, Facebook, Youtube, Twitter, WhatsApp, Instagram, dan banyak lagi media sosial lainnya.

Salah satu kehebatan media sosial adalah membuat data yang kita tak tahu pasti kapan dan dimana suatu kejadian terjadi dan kemampuan media sosial dalam menghilangkan batasan-batasan waktu, geografis dan dimensional memungkinkan manusia untuk mempersingkat waktu dan melipat dimensi-dimensi yang ada sehingga terjadi sebuah percepatan alur informasi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Apalagi dengan berkembangnya sistem komunikasi telepon pintar atau smartphone yang memungkinkan manusia untuk selalu terhubung dengan alat komunikasi tersebut tanpa harus dipusingkan dengan masalah kabel atau harus selalu duduk di depan komputer ketika akan mengakses sebuah situs internet, menjadikan media sosial semakin populer khususnya di kalangan generasi-generasi yang lahir pada era tersebut. Meskipun demikian, tidak sedikit pula generasi-generasi yang lahir sebelum itu yang juga mengikuti dan turut serta dalam mengunakan media sosial di era moderen ini entah itu karena sebuah tuntutan sosial ataupun hanya sekedar mengikuti trend.

Untuk mengurangi dampak hoax yang berseliweran di media sosial di media sosial ada baiknya dilakukan penyaringan berita agar para pengguna media sosial tidak terjebak pada kasus-kasus yang melanggar UU ITE. Menjelajahi media sosial seharusnya menjadi hiburan terdendiri bagi pengguna media sosial ketika ada suasana kenyamanan dan kebahagiaan, namun terkadang para pengguna fasilitas internet ini sering terlewat batas sehingga merugikan diri sendiri dan pihak lain.

Mulai maraknya berita-berita bohong yang bermunculan di abad 20an saat itu, kata “hoax” baru mulai digunakan sekitar tahun 1808. Kata hoax di lansir dari kata hocus yang berarti mengelabuhi, dan kata ini juga dianggap mirip dengan kata yang dipakai si sebuah mantra dalam pertunjukan sulap, yang mana di balik permainan sulap adalah tipuan-tipuan yang direncanakan. Hingga dari generasi ke generasi sampai saat ini, kata hoax selalu berkitan dnegan adanya penyebaran berita atau informasi palsu yang membuat kehebohan dalam masyarakat baik itu secara langsung atau tidak langsung.

Berita dan informasi palsu yang menghebohkan dunia saat ini bukanlah hal baru yang muncul dalam keseharian umat manusia masa kini saja, namun dalam sejarah Islam juga memiliki kasus yang serupa dengan berita palsu atau hoax. Dalam salah satu kisah Nabi dalam Islam, ada dalam kisah Nabi Yusuf AS. yang heboh karena berta palsu. Dalam suatu hari saudara-saudara tua Nabi Yusuf AS. memasukannya kedalam sumur agar ditemukan seorang khafilah yang mau memblinya sebagai budak. Perbuatan saudara-saudara Nabi Yusuf AS ini dilator belakngi oleh kedengkian mereka kepada Nabi Yusuf AS yang selalu mendapatkan nikmat dalam kehidupannya. Hinga suatu hari mereka pasa saudara Nabi Yusuf mengabarkan berita bohong kepada ayahnya yaitu Nabi Ya’qub, bahwa Nabi Yusuf AS tewas dimakan serigala. Dari kisah Nabi tersebut menggambarkan begitu mudahnya sebuah berita bohong dibuat dan bahkan disebarkan dari satu orang atau kelompok ke kelompok lain. Hingga pada zaman kecanggihan teknologi seperti sekarang, sangat mudah dan cepat menyebarkan informasi atau berita ke seluruh belahan dunia. Hanya dengan menggunakan komputer atau hand phone yang mereka miliki, berita palsu bisa cepat dibuat dan disebarkan.

Dalam mengguanakan media sosial yang ada di dunia maya, tak luput dari pemahaman penggunanya dalam berbaha komunikasi yang baik dan benar. Memberikan sebuah makna atau pesan dalam komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda. Dalam bahasa inggris pesan biasanya diterjemahkan dengan kata message, content, atau information.

Diantara faktor yang dapat menyebabkan kesalah pahaman dalam berkomunikasi yaitu sebagai berikut :

1. Gangguan

Ketika manusia melakukan komunikasi, baik kepada individu atau antar kelompok pasti memiliki gangguan di tengahnya. Dalam berkomunikasi langsung maupun tidak langsung seperti lewat media sosial memiliki gangguan dalam berkomunikasi. Ada dua jenis gangguan yang menjadi penghambat jalannya komunikasi yang dapat diklasifikasikan dengan gangguan semantik dan gangguan mekanik. Gangguan semantik adalah gangguan tentang bahasa terutama yang berkaitan dengan perbedaan dan pemahaman bahasa yang digunakan oleh komunikator maupun komunikan, sehingga menumbulkan ketidakjelasan dan kesalahpahaman. Gangguan mekanik adalah gangguan yang disebabkan saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik, terutama yang berkaitan dengan alat atau media yang digunakan.

2. Kepentingan

Komunikator tidak mempehatikan kepentingan komunikan atau lawan bicaranya akan menimbulkan ketidakseimbangan antara keduanya, sehingga komunikan hanya akan mau melakukan komunikasi apabila ada kepentingan yang berkaitan dengannya.

3. Motivasi Terpendam

Motivasi adalah dorongan seseorang untuk mencapai tujuan, keinginan maupun kebutuhannya, sehingga apabila komunikasi sesuai dengan motivasi seseorang terutama komunikan, maka komunikasi akan dapat berjalan secara efektif. Sebaliknya apabila komunikasi tidak sesuai dengan motivasi yang terpendam dalam diri komunikan, maka komunikasinya mengalami hambatan.

4. Prasangka

Prasangka merupakan salah satu rintangan yang berat dalam berkomunikasi, karena bila ada komunikan yang memiliki prasangka terhadap komunikator maka kecurigaan komunikan kepada komunikator akan menjadi penghambat. Adanya sebuah prasangka pada lawan bicara akan membuat suasana pembicaraan menjadi seperti apa yang di prasangkakan pembicara.

Kali ini saya akan menggunakan Hermeneutika Paul Ricoeur bagaimana dalam Memandang Hoax. Paul Ricoeur adalah salah satu tokoh hermenutika yang memiliki beberapa teori tentang memahami sebuah teks berdasarkan kejadian, wacana (lisan), dan teks. Dalam memahami dan mengidentifikasi hoax, ada beberapa teori milik Ricoeur yang saya gunakan dalam tulisan ini, yaikni teori fiksasi dan teori distensiasi. Berikut penerapan teori hermeneutika Riroeur dalam penerapannya terhadap hoax masa kini.

 1. Teori Fiksasi.

Salah satu teori hermeneutika Ricoeur yaitu teori fiksasi ini mejelaskan bagaimana menyampaikan dan memahami proses dari wacana lisan dibentuk ke dalam sebuah teks tulis, atau dari lisan ke penulisan. Fungsi fiksasi adalah menjaga wacana dari kemusnahan. Metode fiksasi ini juga dilakukan oleh zaman sahabat-sahabat Nabi terhadap hadits-hadits Nabi. Jika hadits tidak difiksasi maka yang akan terjadi adalah kemusnahan hadits-hadits Nabi karena berkurangnya sanad dan mungkin akan berubah seiring bergantinya zaman dan penerus penghafal hadits-hadits itu, bahkan pengetahuan kita terhadap peran Nabi Muhammad SAW tidak seperti sekarang yang sudah banyak tersedia hadits-hadits Nabi dengan sanad yang memiliki ingatan yang kuat hingga hadits-hadits Nabi tetap tejaga sampai kapanpun karena metode fiksasi ini.

Menurut Ricoeur jika makna teks mau diungkap atau dipahami, seorang penafsir akan menghadapi dua alternatif, yaitu jalan langsung yang ditempuh oleh Heiddeger yang kemudian diikuti oleh Gadamer atau jalan melingkar yang ditempuh oleh Husserl. Jika menggunakan jalan langsung, seorang penafsir mehamai teks secara langsung tanpa menggunakan metodologi untuk memahami dan menyelidiki makna yang terkandung dalam teks. Dengan jalan ini, banyak pengguna media sosial ketika menerima berita simpang siur akan langsung mempercayai tanpa menyelidiki kebenaran faktual sesuai kejadian yang seungguhnya.

Lalu dengan jalan melingkar atau yang sebenarnya disebut dengan fenomenologi Husserl. Cara ini membuat penafsir atau pembaca lebih dulu menyelidiki kebenaran dari makna di balik teks. Ricoeur menempuh jalan melingkar itu untuk menyingkap makna tersembunyi di dalam teks. Dengan menggunakan jalan melingkar atau fenomenologi ini, seorang pengguna dan pembaca berita di media sosial akan mempertimbangkan berita yang mereka baca dengan menyelidiki fenomena kebenaran yang terkandung dalam teks/berita. Cara ini lebih aman dan mendalam dalam membaca sebuah berita agar terhindar dari hoax, dengan begitu seorang pembaca akan lebih nyaman dan aman dalam membaca berita.

2. Teori Distansiasi.

Dalam teori distansiasinya, Paul Ricoeur dilatari oleh studi bahasa. Menurutnya, bahasa wacana dengan bahasa sebagai bahasa merupakan dua hal yang berbeda. Bahasa sebagai sistem bahasa adalah bahasa merupakan suatu tumpukan yang pasif, misalnya yang ada dalam kamus. Sementara bahasa sebagai sistem komunikasi adalah bahasa yang telah diaktifkan oleh seseorang dalam suatu waktu dan tempat tertentu.

Distansiasi sebagai pemilihan antara peristiwa dengan makna oleh Ricoeur diberlakukan pada wacana (lisan), penulisan (teks), dan tidak berbuat (action) lengkap dengan karakteristiknya sendiri-sendiri. Akan tetapi Ricoeur lebih mengutamakan pada teks. Distansiasi adalah memisahkan berita dari sang penuturnya, dari situasi dan dari penerima awal berita tersebut. Hingga yang menjadi objek kajian hermeneutika adalah makna yang terdapat dalam wacana lisan atau wacana tulis (teks).

Dengan menggunakan teori distansiasi milik Ricoeur ini, para pengguna media sosial yang menerima berita, terutama yang menerima pertama kali bisa untuk dibedakan, sehingga mengerti informasi nyata berdasarkan kejadian yang ada tanpa ada yang mengubahnya. Menggunakan ditansiasi adalah untuk menemukan makna asli dari sebuah kejadian sebelum menjadi wacana dan atau teks orang yang menerima dan menyebarkannya.

 

Pengimplikasian Hermeneutika Ricoeur (teori Fiksasi & Distansiasi) Terhadap Hoax.

 

Penerapan teori fiksasi disini adalah, ketika seorang pembaca melihat suatu gambar atau berita hendaknya ia menyelidiki makna dari setiap informasi yang terkait dengan gambar atau berita tersebut. Agar lebih di percaya dan terhindar dari berita yang bersifat provokatif, maka pembaca menyelidiki makna di balik berita, entah itu bersifat pro terhadap  suatu tokoh  atau malah menghujat tokoh terkait pada suatu gambar atau berita tersebut.

Dengan menggunakan metode fiksasi ini, para pengguna media sosial akan merasa lebih aman dan mendalam dalam membaca sebuah berita agar terhindar dari hoax, dengan begitu seorang pembaca akan lebih nyaman dan aman dalam membaca berita. Selain itu pula, para penerima pengguna media sosial akan lebih selektif dalam memilih informasi yang dapat dipercaya. Dengan mengetahui asal sebuah berita itu, akan merasa tahu bahwa berita yang mereka terima pantas atau tidak dipercaya.

Lalu Penerapan teori distansiasi untuk gambar atau berita bisa dimulai dengan pemisahan penulis dengan teks yang ia tulis. Teori distansiasi milik Ricoeur ini, para pengguna media sosial yang menerima berita, terutama yang menerima pertama kali bisa untuk dibedakan, sehingga mengerti informasi nyata berdasarkan kejadian yang ada tanpa ada yang mengubahnya. Mengguankan ditansiasi adalah untuk menemukan makna asli dari sebuah kejadian sebelum menjadi wacana dan atau teks orang yang menerima dan menyebarkannya.

Hermeneutika Paul Ricoeur yang bisa digunakan adalah teorinya tentang fiksasi dan distansisi. Fiksasi adalah pembentukan hasil wacana atau lisan seseorang yang bisa digantu atau pindah bentukkan berupa teks. Dari teks itu seseorang bisa mengingat dan mengetahui asal sumber yang benar dalam membaca sebuah teks. Dengan menerapkan teori fiksasi ini, para pengguna media sosial yang menerima sebuah informasi dapat melacak terlebih dahulu asal berita tersebut dan menentukan kepercayaan kita berdasarkan fakta dari sumber yang sebenarnya. Dan ada juga teori distansisi, teori ini bertujuan untuk memisahkan teks dengan penulisnya, sehingga bisa memahami maksud teks yang sebenarnya. Jika diterapkan dalam pengidetifikasian informasi hoax, maka yang terjadi adalah si penerima dan pembaca berita akan memahami makna asli dibalik penyebaran berita tersebut. Menggunakan teori ini bisa membuat sang penerima mengetahui motif dan tujuan berita tersebut, sehingga kita bisa mnghindari jika berita tersebut bersifat tak baik untuk kita.

 Saran saya untuk para pengguna media sosial, sebaiknya tidak mudah percaya atau bahkan menyebarkan informasi yang di dapat dari media sosial, terutama  jika itu berifat adu domba antar agama. Dan Bagi mahasiswa sebaiknya jika menerima informasi tidak langsung mendoktrin dan menilai bahwa informasi itu benar, atau bahkan menghindari penciptaan berita yang berbalik dengan fakta sebenarnya. Sebagai mahasiswa tenttunya harus bisa menganalisis kebenaran sebuah berita dan menghindari jika informasi itu salah. Kemudian bagi masyarakat umum sebaiknya tidak langsung terprovokasi pada informasi pada media apapun, karena bisa jadi itu adalah informasi yang bisa mempengaruhi kepercaaayn anda pada seseorang, kelompok, atau bahkan merendahkan pihak lain terutama di bidang agama.

 

Oleh: M.A. Irfani

Comments

Popular posts from this blog

Menimbang Makna Ramadhan: Antara Ritualitas, Konsumerisme, dan Transformasi Etis

Dari Etika ke Formalitas: Reduksi Makna Minta Maaf dalam Tradisi Idul Fitri

Nilai-Nilai Budaya Sasak Kemidi Rudat Lombok dalam Perspektif Hermeneutika