PENGARUH FILSAFAT INDIA (FILSAFAT HINDU-BUDHA) TERHADAP STRUKTUR SIMBOL KEPRIBADIAN BANGSA INDONESIA
Setiap negara memiliki ciri khas bangsanya sendiri untuk membedakanya dengan bangsa lain. Bangsa Indonesia memiliki ciri khas sendiri baik dari karakter, tingkah laku, pandangan hidup dan segala bentuk serta manifestasi budayannya; sehingga mempunyai sifat dan khas yang disebut dengan kepribadian. Dari banyaknya keberagaman yang dimiliki Indonesia, perlu adanya pemersatu dan itu ditunjukan dengan bentuk simbol “Garuda Pancasila” dan bertuliskan selogan “Bhineka Tunggal Ika”.
Dalam simbol kepribadain Bangsa Indonesia yang ditunjukan dengan bentuk “Garuda Pancasila” yang di bawahnya bertuliskan selogan “Bhineka Tunggal Ika” memang memiliki banyak pengaruh dari budaya asing, salah satunya adalah pengaruh filsafat India. Namun sebelumnya perlu diketahui bahwa bukan berarti simbol kepribadian bangsa Indonesia itu semata-mata hanya copy paste dari India. Jadi di sini Penulis akan mencoba menganalisis dengan mengajukan pertanyaan : bagaimana si pengaruh filsafat India terhadap simbol kepribadian bangsa Indonesia ?. Untuk langkah awal sebaiknya kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan simbol.
Pengertian Simbol
Sebelum membicarakan tentang simbol, alangkah baiknya kita terlebih dahulu perlu mengetahui tentang kata “tanda”. Bahasa; tanda dan simbol memeliki keterkaitan yang sangat erat. Dasar umum dari tanda dan simbol adalah manusia dengan manusia lainya. “Tanda” dibedakan menjadi dua,yakni, tanda alamiah dan tanda buatan. Contoh dari tanda alamiah diantaranya adalah kilat, apabila ada kilat maka Guntur akan menyusul. Tanda alamiah hanya mempunyai arti bagi orang yang berkepentingan, misalnya: geledek atau Guntur terdengar dari jauh, itu sangat penting bagi para nelayan.
kemudian tanda buatan itu berasal dari buatan manusia sendiri.hal itu berasal dari pikirannya dan diberi arti berdasarkan hubungan dengan manusia satu dengan yang lain. Contohnya: apabila seorang polisi menunjukan tanda tertentu seperti simbol stop, maka kendaraan harus berhenti. Tanda-tanda buatan manusia banyak sekali jumlahnya. Tanda alamiah mapun buatan, sudah tentu menunjukan sesuatu yang riil (kejadian, benda, atau Tindakan).
Dalam memahami atau membicarakan suatu objek, manusia memilki pemahaman sendiri dari objek tersebut, bukan objeknya sendiri. pemahaman inilah yang disebut sebagai simbol. Kemudian sebuah kata dapat digunakan sebagai tanda, namun ia bukan perananya yang utama. Jadi simpelnya tanda itu menerangkan, memberikan pengertian serta memberitahukan objek-objek kepada subjek, sedangkan simbol memimpin subjek menuju pemahaman objek-objek tersebut. Pada tanda ada tiga hal yang harus terpenuhi yaitu: tanda, objek, dan subjek. sedankan pada simbol ada empat yaitu: simbol, objek, pemahaman, dan subjek.
Negara Republik Indonesia memilki ciri khas yang membedakan Bangsa Indonesia dengan Bangsa lain yang dituangkan dalam suatu simbol “Garuda Pancasila” dengan selogan Bhinkea Tunggal Ika, kemudian “Merah Putih” merupakan simbol warna Bangsa Indonesia.
Simbol Kepribadian Bangsa Indonesia
Bentuk simbol kepribadian bangsa Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Bentuk dan Gambar sebagai simbul, yaitu “Burung Garuda”.
2. Bahasa sebgai simbol, yaitu istilah “Pancasila” dan istilah “Bhineka Tunggal Ika”.
3. Warna sebagai simbol, yaitu warna “Merah-Putih”.
Berdasarkan uraian diatas, selanjutnya akan dianalisis bagaimana bentuk-bentuk pengaruh yang ada pada setiap unsur simbol kepribadian Bangsa Indonesia.
Bentuk-bentuk Pengaruh Filsafat India (Hindu_Budha) terhadapa Struktur Simbol Kepribadian Bangsa Indonesia
Perlu diketahui bahwa tidak semua simbol kepribadian Bangsa Indonesia mendapat pengaruh dari Filsafat India (filsafat Hindu-Budha), hanya ada beberapa bentuk pengaruh filsafat India yang begitu agak Nampak, yakni sebagai berikut:
1. Garuda Pancasila
Pada masa nenek moyang terdahulu yang menganut agama Hindu memandang garuda itu merupakan kendaraan yang digunakan oleh dewa wisnu, yaitu Dewa pembangun dan pemelihara. Maka demikian juga simbol Burung Garuda pun mengandung makna pembangun dan pemelihara. Disamping Burung Garuda memiki sifat yang perkasa, gagah dan berani, ia juga mengandung makna “Pemelihara dan Pembangun”. Sesuai dengan peranan Dewa Wisnu. Namun ada satu norma yang cukup tinggi dalam struktur simbol garuda adalah posisi kepala garuda menoleh kekanan. Berdasarkan moral dalam panangan Indonesia terutama Jawa mengandung makna dan nilai yang berbeda. Kanan dilambangkan sebagai norma kebaikan, sedangkan kiri melambngkan kemungkaran (keburukan).
2. Istilah “Pancasila
Secara etimologinya diambil dari bahasa Sanskerta dan bahkan Pancasila merupakan pedoman ajaran moral Budhisme yang disebut “Pancasila” atau lima pantangan. Pengaruh ajaran moral Budhisme telah mengakar pada masyarakat jawa yang disebut “M” lima. (malima). Berikut “M” lima yang dimaksud :
Mateni: artinya membunuh
Maling: artinya mencuri
Madon: artinya berzina
Madat: artinya menghisap candu
Main: artinya berjudi
Lima larangan moral ini dalam masyarakat jawa masih dikenal dan masih juga jadi pedoman moral, tetapi namanya sekarang bukanlah pancasila, ia tetap dengan nama “Ma-lima”.
3. Istilah “Bhineka Tunggal Ika”
Selogan “Bhineka Tungal Ika” ini diambil dari kitab “Sutasoma” yang dalam bahasa Jawa kuno disebut gubahan Empu Tantular. Berbeda dengan istilah “Pancasila” dimana terlihat langsung pengaruh dari India yaitu diambil dari bahasa Sansekerta. Secara etimologi istilah “Bhineka Tunggal Ika” memang tidak di ambil dari bahasa Sansekerta langsung, akan tetapi makna dan isi dari selogan itu terlihat jelas pengaruh Hindu-Budha. Istilah itu justru berasal dari bahasa Jawa kuno yang oerbendaharaanya terlihat dan diwarnai oleh bahasa Sansekerta.
4. Warna “Merah-Putih”
Warna “Merah-Putih” dimana sebagai bendera negara Republik Indonesia sejak berates-ratus tahun yang lalu telah ada, Warna “Merah-Putih” merupakan hasil akulturasi dari nilai-nilai yang dibawa oleh filsafat Hindu-Budha. Warna “Merah” dahulu dikenal pada kembang tunjung (Nalumbium Speciosum) digunakan sebagai lambing untuk memuja Mahadewa Brhama, sedangkan kembang tunjung “Putih” dinamakan “Kumuda” (Sanskerta) dipakai sebagai lambing Maha dewa Syiwa menurut peradan Hindu. Warna “Merah_Putih” memiliki nilai moral yang sangat tinggi, “Merah” berarti keeranian, sedangkan “Putih” berarti kesucian, maka “Merah Putih” mewujudkan “Keberanian atas kesucian”.
Kesimpulan
Simbol kepribadian bangsa Indonesia, seperti Burung Garuda, istilah Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan warna Merah-Putih, memiliki pengaruh signifikan dari filsafat India (Hindu-Buddha). Pengaruh ini tampak pada elemen-elemen simbolis yang mencerminkan nilai-nilai moral dan budaya Hindu-Buddha yang telah berakulturasi dengan kearifan lokal Indonesia. Pemahaman terhadap makna simbol-simbol ini bertujuan untuk memperkuat rasa nasionalisme, persatuan, dan kebersamaan di antara masyarakat Indonesia
Reference
Kaelan, (1984) Pengaruh unsur-unsur filsafat India (filsafat Hindu- Budha) terhadap struktur simbol kepribadian bangsa Indonesia. [Yogyakarta): Lembaga Penelitian Universitas Gadjah Mada. (Submitted) https://repository.ugm.ac.id/id/eprint/96725.

Comments
Post a Comment